International School and Multiple Intelligences

January 29, 2010 at 8:06 am (1)


On these several years, Indonesia’s position on Human Development Index (HDI) should make us abashed. It is on the 108th from 177 countries. Indonesia’s index is far under those Malaysia, Singapore, Philippine, and Thailand in quantity and quality views which are in the high category on this index (UNDP, 2006). It indicates that our management on the educational system is in ironic level as a result of bad series curriculums (latest KTSP, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Formerly KBK, and Kurikulum 1994), the inferior of our human resources take place too which is the 4th highest population in the world after China, India, and USA (http://www.xist.org/). According to Alvita, (2007) Indonesia’s deficiencies on the educational systems are too much emphasized on the academic process, teacher oriented, and too heavy on the curriculum as learning guide.
Howard Gardner (2003) stated that there are at least nine varied of intelligences, verbal, logic, visual, kinesthetic, musical, interpersonal, intrapersonal, naturalist, and existential intelligences (Lazier, 1991; Amstrong, 2002). The ideal schools are schools which are able to facilitate the multiple intelligence factors of their students it self to do a going places on learning at school and understand every uniqueness and the differences it self (Paryono, pusatbahasa.go.id; Alvita, 2007). International Schools in Indonesia are the ideal criteria to answer the needs of outstanding schools in Indonesia. Why must be international schools?
The teachers are professional and they use various learning methods and media in the class. International school’s teachers come from suitable background (educational bachelor or master degree) who understand how to handle students very well (source). They emphasize on the active participation of their students intensively and they make high expectation to enhance students learning. It means teachers require Student Active Learning and Collaborative method which make all students get used to giving big contribution in the class. Those strategies can develop student’s interpersonal intelligence.
Their assessments methods are not monotonous. They do not emphasize on UAN (national examination) and class ranking system (source). UAN is cognitive oriented only. It will disregard the affective aspects such as creative, democratic, autonomous learner principle, and other kinds of multiple intelligences. It does not facilitate students who have sufficient ability in logic but have very good ability in sport, art or music (Khaerudin, ilmupendidikan.net). International schools form students to be creative learner so that the assessments they use are exhibition, drama, music performance, competition in class (combination between traditional, informal, and alternative assessment methods) which enhance all student’s multiple intelligence (Santrock, 2009).
They have complete non-academic activities (extracurricular). They provide full facilities to support student’s talent not only in academic aspects but also in non-academic one. It creates the generation who is skillful not only in cognitive but also in their social life which is proposed to make a well being person.
Finally, human has six potentialities; physic, social, academic, creative, emotions, spiritual (Megawangi, et al., 2005). In author’s opinion dismiss UAN, grade system in class, not assessing in cognitive aspects only, up to date learning methods, and also creative thinking students required can be applied in other schools (state or private schools). They are also best way to make Indonesian educational system is looking forward so that all potentialities mentioned above can be performed in all out way. Government should revised the curriculum and solve what is wrong in our educational system. Teachers has to be educators, guiders, teachers, coach, advisor, role model, actor, emancipator, culmination person, and evaluator (Paryono, pusatbahasa.go.id) so that students can go places optimally and get learning experiences which impress, inspire them very much in his or her lifetime. School is one place that makes them to be an autonomous learner who they will be a next golden generation in this nation.

Advertisements

Permalink Leave a Comment

Pemilihan Ketua Angkatan Sampoerna School Of Education

October 17, 2009 at 9:42 am (pendidikan)


JAKARTA(16/10) : “Hari-Hari Tenang”, Hari terakhir dari kampanye para kandidat Ketua Mahasiswa 2009/2010, yang direncanakan ketua angkatan terpilih akan memimpin selama 1 tahun dan diawasi oleh senat yang terdiri dari utusan beberapa pioner terpilih yang merepresentasi beberapa disiplin ilmu yang berbeda. Hari ini juga para Succesfull Team mengakhiri perang strategi untuk mendapatkan simpati dari para simpatisan. Elaborasi visi misi dari tim sukses dirasa kurang cukup untuk menyanjung dan menjelaskan program kandidat yang diusung. Terlihat dimana-mana pula disudut ruang kampus Tag Line, program kerja , serta segala sesuatu yang baik tentang kandidat diumbar. Tapi belum ada survey awal yang menyatakan kandidat siapa yang akan menang (mungkin bisa digunakan sebagai strategi penggiringan simpatisan  ).
Calon yang berintegritas, memiliki kapabilitas, kredibel, dan representatif terhadap aspirasi mahasiswa kampus di segala aktivitas baik eksternal ataupun internal-lah yang harus dipilih, track record atau pengalaman memimpin bisa jadi gambaran dan bahan pertimbangan tentang style kepemimpinan a’la kandidat terusung.
Kolaborasi antara para kandidat di luar persaingan kampanye ketua angkatan tetaplah sangat baik, itu membuktikan bahwa mahasiswa SSE merupakan mahasiswa demokratis, manifestasi pendidikan indonesia yang dikembangkan berdasarkan sifat unggul terpilih pribadi, dimana teori stimulus-response a’la Thorndike amat terhubung dengan moral development teman-teman masing-masing. Dan mesosystem yang berinteraksi menurut bronfenbreners amat kuat terlibat.
“ Tidak ada ide konyol, adanya ide cemerlang, berbeda dari biasanya, dan kita harus menghargainya” kata Ibu Sulandjari ( Student Affair Chairman Of SSE). itulah kata yang selalu terngiang dalam diri saya tentang orang lain bahwa hidup berdemokrasi harus toleran dan bisa menciptakan iklim persaingan yang nyaman antara sesama mahasiswa.
Jangan sampai karena perbedaan calon ketua angkatan, kita melakukan tindakan tak patut, social-emotional yang constructivist harus dibangun dan disandarkan pada etika demokrasi yang telah ada. Bukankah dengan adanya pemilihan ketua angkatan ini kita menginginkan perubahan SSE menjadi lebih baik?

Permalink 2 Comments

GURU ITU MEMANG YANG TERBAIK

October 13, 2009 at 6:03 am (pendidikan)

Kalau kata pak iwan (dosen Smpoerna Scholl Of Education)“ tidak salah jika seorang soekarno, Mr. Radjiman Widyonoingrat, dan para Founding Fathers negeri ini bias membawa bangsa kita terlepas dari kerasnya belenggu penjajahan kaum-kaum expatriate. Mereka yang notabene adalah kaum terpelajar hebat yang bisa menguasai 4 bahasa Belanda, Mandarin, Arab, Dan Juga Melayu di masa pendidikan tengah mereka yang sekarang bisa dibilang SMA. Mungkin mereka memang cerdas, tetapi saya yakin kehebatan mereka terlahir dari guru-guru yang hebat yang kompeten terhadap tantangan pendidikan zaman itu. Mereka mengerti benar apa yang harus dibuat dan dilakukan untuk menjadikan the Founding Fathers seperti itu. Saya tidak menyudutkan bahwa guru-guru sekarang tidak sehebat guru-guru masa lalu mari kita telaah dimanakah letak perbedaanya, dan kita jadikan suatu pelajaran penting bahwa seorang guru adalah panutan dan pembentuk karakter karakter terbaik pemimpin bangsa. Kalau John Dewey pernah bilang “teaching is like commodities, they are not sold if nobody buys them, and the teachers has not taught if nobody learns.” dan kalau Mrs. Sisilia ( Kepala Balitbang Linguistic Bahasa Inggris dan dosen UKI, Universitas Kristen Jakarta ),” because teachers are long life learner”. Dari pernyataan diatas pun kita bisa tahu bahwa jika seorang guru tidak belajar dari keadaan dan dia tegas, “saya sudah mengajarkan pelajaran dengan cara yang terbaik, tetapi tidak ada yang mengerti” itu berarti dia tidak mempelajari keadaan, dia tidak tahu karakter-karakter murid- murid yang dibimbingnya walaupun guru itu sejenius apa. Pertanyaanya sekarang adalah guru seperti apa yang dituntut oleh banyak manusia-manusia di dunia yang haus akan High-Quality- Education,. Saya men-summary banyak karakter yang telah saya pelajari untuk seorang guru terbaik yang bisa beradaptasi dengan situasi dan tuntutan zaman. Mengapa saya tidak bilang “ karakter yang telah saya pelajari untuk seorang guru ideal?” karena tidak ada soerang guru yang ideal, mereka harus terus berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi profesinya dan situasinya yang menuntutnya untuk menjadi yang terbaik. Diantara karakter yang saya maksud adalah:
 Ketahui bidang pelajarannya secara spesifik dengan baik dan tahu methoda apa dan bagaimana untuk mengajarkannya ke anak didik
 Mengerti bagaimana murid-murid belajar dan berkembang setiap orangnya
 Mengetahui dengan benar tujuan dari kurikulum
 Dedikasi untuk selalu memberikan yang terbaik
 Menciptakan atmosphere belajar yang menyenagkan
 Bisa menempatkan posisi diri tidak hanya sebagai guru dikelas, tetapi bisa sebagai teman diluar, rekan organisasi atau teman yang lainnya semasa dalam konteks pembelajaran
 Menciptakan keberagaman cara belajar
 Tetap up to date Teknologi
 Selalu bisa beradaptasi dengan situasi apapun

Point diatas adalah sedikit gambaran tentang karakter guru yang dirindukan oleh dunia dengan High-Quality Educationya. Bagaimanapun juga menurut ibu Sisilia, guru adalah perpaduan pengetahuan science dengan art, baginya guru hebat adalah guru yang memotivasi dan inspiratif untuk menjadikan anak didiknya berkembang. Dan menurut Imelda Fransisca (Miss Indonesia 2005) “seorang guru adalah seorang yang merubah masa depan orang lain, yang membangun bangsa ini dan menciptakan tentara-tentara bangsa yang siap menjawab tantangan globalisasi.”
Dengan adanya keterlibatan ICT ( Information Communication And Technology), guru sekarang bisa berkali- kali lipat hebatnya dengan guru masa lalu, atau yang sama atau bahkan lebih hebatnya dari dosen SSE, tergantung bagaimanakah setiap guru itu membentuk dirinya sendiri, setuju?

Permalink 11 Comments

Hello world!

October 11, 2009 at 4:16 am (pendidikan)

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Permalink 1 Comment